Mean Reversion atau Kembali ke Rata-Rata Bollinger Bands

Secara teori, harga di pasar cenderung kembali ke rata-rata (dikenal sebagai mean reversion atau kembali ke rata-rata). Ini terjadi karena beberapa alasan utama, yang terkait dengan konsep statistik dan perilaku pasar:

1. Hukum Rata-Rata (Law of Averages)

  • Dalam jangka panjang, fluktuasi harga yang naik dan turun akan cenderung mendekati nilai rata-rata sebagai hasil dari hukum rata-rata. Sama seperti pelemparan koin yang cenderung menghasilkan rasio seimbang antara sisi kepala dan ekor setelah ribuan kali lemparan, pergerakan harga pun akan cenderung mendekati rata-rata karena pengaruh dari aksi beli dan jual yang silih berganti.

2. Sifat Psikologis Trader dan Penyesuaian Harga

  • Trader dan investor sering bereaksi berlebihan terhadap berita atau perubahan harga secara mendadak, yang bisa membuat harga bergerak jauh dari rata-rata (overbought atau oversold). Namun, saat efek dari berita tersebut berkurang atau pasar mulai stabil, aksi profit-taking (mengambil keuntungan) atau masuknya pembeli/seller baru yang menganggap harga menarik akan membawa harga kembali ke rata-rata.
  • Ini juga terkait dengan bandwagon effect (efek ikut-ikutan) di mana, ketika harga melonjak, banyak trader mengikuti tren. Begitu tren memudar, banyak yang akan menjual, menyebabkan harga kembali mendekati rata-rata.

3. Arbitrase dan Efisiensi Pasar

  • Dalam pasar yang efisien, perbedaan harga yang terlalu jauh dari nilai intrinsiknya akan menciptakan peluang untuk arbitrase, yaitu membeli di harga rendah dan menjual di harga tinggi. Aktivitas ini membantu menstabilkan harga dan membawanya lebih dekat ke nilai rata-rata.
  • Di sisi lain, jika harga terlalu tinggi, trader atau investor akan menahan diri untuk tidak membeli sampai harga kembali normal. Hal ini mendorong proses alami harga yang kembali ke rata-rata.

4. Distribusi Normal pada Data Harga

  • Bollinger Bands menggunakan deviasi standar, yang didasarkan pada asumsi bahwa harga mengikuti distribusi yang mendekati normal. Distribusi normal memiliki sifat di mana sekitar 68% data berada di dalam satu deviasi standar dari rata-rata, dan sekitar 95% dalam dua deviasi standar. Dengan asumsi harga terdistribusi secara normal, peluang harga untuk kembali ke rata-rata akan lebih tinggi ketika sudah berada jauh dari deviasi standar tertentu (misalnya SD2).
  • Oleh karena itu, saat harga menyentuh atau menembus band atas atau bawah, ada kecenderungan statistik bagi harga untuk kembali ke rata-rata, karena pergerakan ekstrem biasanya jarang bertahan lama.

5. Penyesuaian terhadap Fundamental

  • Harga saham, komoditas, atau mata uang pada akhirnya mencerminkan fundamental seperti laba perusahaan, pertumbuhan ekonomi, atau suku bunga. Jika harga bergerak terlalu jauh dari nilai fundamentalnya (rata-rata intrinsik), pelaku pasar akan bereaksi, membawa harga mendekati nilai rata-rata ini.
  • Misalnya, jika harga saham melonjak tajam tanpa adanya perubahan positif dalam fundamental perusahaan, trader mungkin menganggapnya mahal dan menjualnya. Sebaliknya, jika harga turun drastis tanpa alasan yang jelas, mereka mungkin menganggapnya sebagai peluang untuk membeli.

Jadi, dalam konteks Bollinger Bands:

Ketika harga mendekati band atas atau bawah, ada kecenderungan bagi harga untuk berbalik mendekati rata-rata karena tekanan dari psikologi pasar, efisiensi, dan hukum statistik yang menekan harga ke area mean reversion. Inilah mengapa strategi mean reversion sering digunakan dalam trading.

Posting Komentar

0 Komentar